Tak hanya pembaca, penulis sering tidak dapat membedakan antara memoar, autobiografi, biografi, dan prosopografi (biografi kolektif). Keempatnya sama-sama buku kisah hidup yang bersifat faktual dalam kategori nonfiksi.
Dictionary of Publishing and Printing (A & C Black) mendefinisikan memoar sebagai berikut: An autobiographical work, written in a less formal and more selective way than a full autobiography. Jadi, memoar hanya berfokus pada satu sisi kehidupan seseorang sebagai bentuk ringkas autobiografi—autobiografi memuat kisah kehidupan seseorang secara lengkap dan menyeluruh.
Secara umum, memoar adalah tulisan nonfiksi yang merekam pengalaman hidup penulis, tidak selalu mencakup seluruh perjalanan hidup, melainkan bagian atau tema tertentu yang dianggap penting dan bermakna. Berbeda dari autobiografi, memoar lebih selektif, reflektif, dan emosional.
Berikut 7 jenis memoar berbentuk buku yang paling umum ditemukan.
1. Memoar Personal
Memoar yang merupakan bentuk pengakuan diri terhadap apa yang terjadi pada satu sisi kehidupan seseorang. Beberapa memoar personal berisikan tragedi.
Ciri:
- berfokus pada pengalaman batin, luka pribadi, relasi, atau trauma;
- ditulis dengan sudut pandang orang pertama;
- bahasa jujur, emosional, dan reflektif; dan
- sering memicu empati dan identifikasi pembaca.
Salah satu contoh memoar personal adalah yang saat ini sedang viral dan menjadi perbincangan awal 2026, yakni Broken Strings: Kepingan Masa Muda yang Patah (2025) karya Aurelie Moeremans. Ia berkisah tentang tragedi masa remajanya yang harus menikah dalam usia muda dan menjadi korban child grooming. Tujuannya dapat merupakan katarsis, penyadaran diri, dan resonansi emosional.
2. Memoar Masa Kecil & Remaja
Memoar (coming-of-age memoir) yang merekam fase pembentukan identitas penulis pada masa kanak-kanak atau remaja, biasanya melalui konflik keluarga, pendidikan, atau lingkungan sosial.
Ciri:
- menyoroti fase pembentukan identitas;
- konflik dengan keluarga, sekolah, lingkungan sosial;
- nada reflektif terhadap masa lalu; dan
- banyak digunakan untuk membaca konteks sosial suatu zaman
Salah satu contoh memoar masa kecil & remaja adalah Masa Kecilku (1993) yang ditulis oleh Sudharmono, S.H., wakil presiden pada zaman Orde Baru. Memoar itu mengisahkan kehidupan masa kecil Sudharmono di sebuah desa di Jawa Timur. Memoar masa kecil biasanya bertujuan sebagai nostalgia, edukasi nilai-nilai, dan refleksi sosial.
3. Memoar Profesi & Perjalanan Karier
Memoar yang menuturkan kisah hidup penulis melalui perjalanan pekerjaan atau peran profesional, termasuk proses, kegagalan, dan pencapaian. Terkait dengan perjalanan karier, biasa pula disebut memoar jabatan.
Ciri:
- mengisahkan hidup seseorang melalui pekerjaan atau peran publik;
- banyak memuat proses, kegagalan, dan pencapaian; dan
- inspiratif, sering dikemas sebagai motivasi.
Salah satu contoh memoar profesi/perjalanan karier adalah Memoar Guru Besar Ilmu Bedah yang memuat pengalaman Prof. R. Sjamsuhidayat sebagai Guru Besar Fakultas Kedokteran di Universitas Indonesia.
Memoar profesi atau jabatan ini bertujuan menginsprasi, menjadi legasi, dan menjadi pembelajaran tentang pengalaman profesional seseorang.
4. Memoar Sosial–Politik
Memoar yang memadukan kisah hidup penulis dengan peristiwa sejarah atau politik, sehingga berfungsi sebagai kesaksian personal atas suatu zaman.
Ciri:
- penggalan kisah hidup beririsan dengan peristiwa sejarah;
- penulis menjadi saksi atau pelaku peristiwa penting; dan
- mengandung nilai dokumenter dan kritik sosial.
Salah satu contoh memoar semacam ini adalah Memoar Oei Tjoe Tat: Pembantu Presiden Sukarno diterbitkan oleh Hasta Mitra dan dieditori oleh Pramoedya Ananta Toer dan Stanley Adi Prasetyo, merupakan penggalan kisah hidup Oei Tjoe Tat sebagai pembantu Presiden Sukarno. Contoh lain adalah Memoar Pulau Buru yang merupakan catatan-catatan pribadi Hersri Setiawan atas kehidupannya sebagai tahanan politik Orde Baru. Memoar itu ditulis setelah ia menjadi orang usiran dan tinggal di Belanda.
Memoar sosial/politik bertujuan sebagai arsip sejarah, kesaksian, dan perlawanan naratif.
5. Memoar Penyintas (Survivor Memoir)
Memoar penyintas (survivor memoir)) adalah memoar yang berasal dari pengalaman ekstrem atau traumatis, dengan fokus pada proses bertahan, pemulihan, dan makna hidup setelah krisis.
Ciri:
- berangkat dari pengalaman ekstrem: penyakit, kekerasan, bencana, penyakit, penindasan;
- narasi tentang bertahan dan pulih; dan
- kuat secara emosional dan etis
Memoar bertajuk Silent Fight: Memoar di Antara Langit dan Lupus karya Ginna Leviana Elda termasuk ke dalam kategori ini. Tokoh utama berusaha untuk bertahan dan berdamai dengan lupus yang diderita di tengah ia sedang merintis karier sebagai pramugari.
Memoar semacam ini bertujun membangkitkan kesadaran sosial, advokasi, penyembuhan kolektif.
6. Memoar Perjalanan (Travel Memoir)
Memoar yang membingkai kisah hidup penulis melalui pengalaman perjalanan fisik lintas tempat, budaya, dan ruang, disertai refleksi personal.
Ciri:
- kisah hidup dibingkai melalui perjalanan fisik;
- interaksi budaya, alam, dan refleksi diri; dan
- gabungan catatan harian dan renungan filosofis.
Buku-buku Agustinus Wibowo termasuk kategori memoar perjalanan. Contohnya Titik Nol: Makna Sebuah Perjalanan. Contoh lain adalah The Naked Traveller: Catatan Seorang Backpacker Wanita Indonesia Keliling Dunia karya Trinity yang menjadi buku best seller.
Memoar ini bertujuan menumbuhkan pemahaman lintas budaya dan refleksi identitas.
7. Memoar Kolektif
Memoar yang disusun dari pengalaman banyak individu atau tim penulis, membentuk narasi bersama tentang suatu komunitas, peristiwa, atau realitas sosial.
Ciri:
- ksah hidup tidak hanya satu individu;
- ditulis oleh tim atau melalui wawancara banyak subjek; dan
- menggabungkan pengalaman personal menjadi narasi sosial.
Contoh memoar semacam ini adalah buku #Reset Indonesia: Gagasan untuk Indonesia Baru yang merupakan catatan empat jurnalis dari empat generasi dari hasil berbagai ekspedisi di Indonesia. Memoar semacam ini bertujuan membangun ingatan kolektif dan kesadaran publik.