Tepat hari ketiga Ramadan 1447 H. atau 21 Februari 2026, Penprin menyelenggarakan kegiatan obrolan Ngabubulis alias ngabuburit sambil belajar menulis. Seyogianya peserta terdaftar 38 orang, tetapi yang hadir 20 orang. Namun, tidak mengurangi khidmatnya kami membahas jalan dakwah melalui buku anak Islam.
Buku anak Islam, menurut pandangan saya, baru mulai muncul dengan gagasan progresif pada era 1990-an. Sebagai Gen-X yang lahir pada 1970-an, saya tidak mendapatkan bahan bacaan Islami khusus untuk anak-anak. Dulu yang muncul malah komik surga-neraka yang menempel kuat di kepala. Buku lain umumnya seputar ibadah, seperti tuntunan salat.
Era 1990-an diwakili dengan kemunculan dua penerbit Islam yang progresif, yaitu Mizan dan Gema Insani Press. Setelah itu muncul penerbit Islam lainnya dan perbukuan Islam mengalami kemajuan pesat sejak 1990-an itu. Penerbit senior seperti Remaja Rosdakarya, juga turut menerbitkan buku-buku anak Islam, terutama karya Bung Smas yang menyajikan cerita para Sahabat Rasulullah saw.
Dakwah Bil Kalam
Berdakwah melalui perantaran kalam (tulisan) termasuk mengandung keampuhan karena aktivitas membaca tidak terlepas dari kehidupan manusia sehari-hari. Bahkan, perintah iqra (membaca) itu sudah menjadi bagian dari kehidupan seorang Muslim untuk belajar.
Para penulis pun perlu mengingat kembali konteks firman Allah Swt. berikut:
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.” (QS. Ali ‘Imran: 104)
Dakwah merupakan tanggung jawab kolektif yang juga diemban oleh para penulis Muslim. Hal itu dikuatkan pula oleh Rasulullah ﷺ:
“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat.” (HR. Bukhari)
Itu pula yang menggerakkan saya bergiat menulis, menyunting, dan menerbitkan buku anak Islam sejak menjadi penulis dan editor pada 1994. Lalu, makin intens ketika saya bergabung dengan Penerbit Salam Prima Media pada 1997 yang mengkhususkan diri dalam penerbitan buku anak Islam.
Karakteristik Buku Anak Islam
Saya menyajikan 21 salindia tentang hakikat menulis dan menerbitkan buku anak Islam bertajuk “Taktis Menulis Buku Anak Islami”. Silakan mengunduh PDF salindia di sini.

Acara gratis ini merupakan salah satu bentuk kepedulian Penprin terhadap perkembangan literasi anak, khususnya anak Muslim dalam memahami keberagamaan. Sejatinya, buku anak Islam tidak jauh berbeda dengan buku anak kebanyakan. Ia juga terbagi atas genre fiksi dan nonfiksi—lalu dapat ditambah dengan genre faksi, puisi, dan drama. Hanya kontennya yang berbeda karena muatan Islaminya yang lebih ditonjolkan.
Dari sisi tema, paling tidak terdapat empat tema yang dapat diusung dalam buku anak Islam, yaitu
- ibadah,
- akidah,
- muamalah, dan
- sirah (sejarah)
Buku anak Islam juga dapat, bahkan perlu, disajikan dengan menggunakan konsep Perjenjangan Buku dengan memperhatikan level kognitif anak. Secara bentuk, ia dapat disajikan dalam bentuk buku bergambar (picture book), buku berbab (chapter books), dan novel awal (first novel). Dukungan visual, terutama untuk pembaca dini dan pembaca awal, memang perlu diperhatikan untuk memunculkan minat membaca.
Oase Gagasan Buku Anak Islam
Saya menegaskan bahwa Islam menyediakan oase gagasan penulisan yang tidak pernah kering, termasuk yang disajikan untuk anak-anak. Konsep-konsep abstrak dalam agama Islam dapat secara kreatif menjadi penyajian yang konkret dengan cerita keseharian yang dekat dengan dunia anak.
Saya mencontohkan sebuah konsep tentang hijrah yang dapat disajikan secara lebih familier dengan apa yang dialami oleh anak-anak. Itu sebagai contoh bagaimana tema-tema Islami dapat disajikan secara kreatif, misalnya dalam bentuk nonfiksi naratif.

Penulis dan editor Muslim dapat mengambil bagian jalan dakwah melalui buku anak Islam karena ini, terutama bagi saya, merupakan tantangan yang mengasyikkan. Apalagi, tantangan untuk mengeksplorasi sosok uswatun hasanah, Nabi Muhammad ﷺ. Semua yang ada pada diri Rasulullah adalah kebaikan sehingga menuliskannya pun merupakan himpunan kebaikan.
Selamat berkiprah di dunia buku anak Islam, bukan sekadar ikut-ikutan dan tergiur pasar besar, melainkan karena memang ada panggilan dakwah untuk meningkatkan daya literasi anak-anak Muslim, terutama menanamkan konsep Islam itu indah dan rahmatan lil alamin.
