Di beberapa kampus yang menyelenggarakan Program Studi Bahasa Indonesia terdapat mata kuliah Penyuntingan Naskah. Namun, perlu disadari bahwa penyuntingan naskah bukan melulu soal bahasa, melainkan ada aspek lain yang wajib dipahami oleh para calon editor, terutama editor pemula.
Penyuntingan naskah telah berkembang sebagai ilmu yang disebut editologi sejak 1970-an. Sejarah mencatat bahwa Ikapi Jaya (Ikapi DKI) pernah menyelenggarakan pelatihan editor buku kali pertama pada 1979. Di Jepang didirikan Editological Society of Japan sebelum 1980.
Shang Ding, penulis dari Tiongkok menggunakan istilah ‘editologi’ kali pertama di dalam bukunya bertajuk A Short Remark on Editology. Pada 1984, Science of Publishing Institute of China didirikan dengan tugas utama meneliti dan mengembangkan editologi (Albatch & Hoshino, 2015).
Subprogram Studi D-3 Editing yang merupakan bagian dari Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia di Unpad, didirikan pada 1988. Masa itu dunia penerbitan media massa, baik penerbitan media berkala maupun penerbitan buku memang sedang hot-hot-nya.
Artinya, pada era 1970-an, copy editing telah berkembang sebagai suatu bidang ilmu yang memang tidak cukup diajarkan dalam 3–4 SKS. Ia merupakan gabungan berbagai latar belakang keilmuan, seperti bahasa, komunikasi, perpustakaan, desain komunikasi visual, dan grafika.
Pendirian Pusat Grafika Indonesia (Pusgrafin) pada 26 April 1969 juga menegaskan mulai dilirikan ilmu penerbitan dan ilmu percetakan secara bersamaan. Kelak, Pusgrafin bertransformasi menjadi Polikteknik Negeri Media Kreatif (Polimedia) yang mengadakan Jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan.
Fundamental Penyuntingan Naskah
Bagaimana seorang editor pemula dapat memahami fundamental penyuntingan naskah? Hal pertama yang harus dipahaminya adalah aspek-aspek penyuntingan naskah. Itu untuk menjawab apa saja yang disunting dari sebuah naskah. Mari saya tunjukkan beberapa aspek fundamental itu.
- aspek keterbacaan naskah,
- aspek ketaatasasan/konsistensi naskah,
- aspek kebahasaan naskah,
- aspek kejelasan/kemudahan untuk dipahami,
- aspek ketelitian data dan fakta (akurasi),
- aspek legalitas dan norma, dan
- aspek perincian produksi.
Ketujuh aspek itu diuraikan oleh Datus C. Smith Jr. (1992) dalam bukunya Penuntun Penerbitan Buku yang diterjemahkan dan diterbitkan oleh Pusgrafin. Tujuh aspek itu pula yang menjadi acuan pembelajaran copy editing di D-3 Editing, Universitas Padjadjaran sejak 1988.
Adapun Amy Einsohn dan Maryln Schwartz (2019) mengelompokkan aspek itu secara berbeda, yaitu
- penyuntingan mekanis,
- penghubungan antarbagian,
- penyuntingan bahasa,
- penyuntingan materi,
- perizinan, dan
- penandaan bagian cetak.
Sejatinya antara konsep Smith dan Einsohn-Schwartz terdapat kemiripan fokus penyuntingan. Karena itu, Institut Penprin mengembangkan silabus pelatihan yang memadukan aspek-aspek itu sebagai fundamental penyuntingan naskah.
Bagaimana seorang editor pemula dapat meningkatkan kompetensi fundamental dalam penyuntingan naskah?
Memperdalam Kemahiran Berbahasa Tulis
Bahasa menjadi aspek fundamental yang harus dikuasai oleh editor naskah. Editor naskah mendalami lima fokus kebahasaan, yaitu
- diksi (tata makna),
- ejaan (tata tulis),
- morfologi (tata bentuk),
- sintaksis (tata kalimat), dan
- tata paragraf.
Meskipun editor tidak berasal dari latar belakang pendidikan bahasa, ia tetap dapat mempelajari konteks kebahasaan yang praktis. Saya menganjurkan fokus pada kasus-kasus kebahasaan: mana yang benar dan mana yang salah. Selanjutnya, perdalam mengapa suatu unsur bahasa itu benar dan mengapa ia salah.
Karena itu, Anda tidak perlu belajar linguistik secara mendalam untuk mahir dalam berbahasa tulis. Anda pun tidak dapat menghindar dari penyuntingan aspek bahasa karena kesalahan utama para penulis itu adalah kesalahan penggunaan bahasa.
Memperdalam Kekhasan Karya Tulis
Karya tulis itu banyak, dari segi ranah, ragam/jenis, dan genrenya. Ada dua pembagian yang sering kita kenal, yaitu fiksi dan nonfiksi. Dari segi ranah, kita mengenal ranah sastra, ranah kreatif, ranah ilmiah, ranah jurnalistik, dan ranah hukum. Jika Anda hendak berfokus pada satu ranah, perdalam kekhasan setiap jenis/genre tulisan dan anatominya.
Ranah ilmiah misalnya, melahirkan struktur baku tulisan, seperti dalam bentuk artikel ilmiah, skripsi, tesis, disertasi, dan monografi. Struktur baku itu sudah disepakati sebagai bagian dari gaya selingkung penulisan. Maka dari itu, mereka yang bekerja di ranah ini harus paham betul tentang anatomi naskah dan gaya selingkung penulisan, seperti APA Style, CMS, Turabian, IEEE, dan MLA.
Pilihan ada pada diri Anda apakah menjadi generalis atau spesialis dalam penyuntingan naskah. Setiap orang dapat melebarkan kompetensinya seperti dijelaskan David Epstein dalam bukunya Range. Anda dapat menjadi seorang editor T-Shapes yang memiliki kompetensi mendalam dan kompetensi melebar.
Saya membahas perihal itu di buku saya bertajuk Panduan Pemula Menjadi Editor Andal.
Memahami Penyuntingan Mekanis
Penyuntingan mekanis merupakan penyuntingan fundamental. Definisinya sebagai berikut:
Penyuntingan mekanis adalah proses memperbaiki dan menyelaraskan elemen “permukaan” teks agar sesuai dengan aturan bahasa dan gaya (style) tertentu. Elemen permukaan ini mencakup ejaan (tanda baca, kapitalisasi, pemenggalan kata (hyphenation), penggunaan angka), kepatuhan terhadap pedoman gaya (style guide), format, dan aspek-teknis lainnya.
Simpulannya editor naskah harus mampu menemukan kesalahan pada elemen permukaan itu dalam sekali baca. Itu yang disebut dengan ketajaman intuisi kepenyuntingan. Untuk menajamkan intuisi kepenyuntingan, editor naskah dapat berlatih menggunakan markah ralat/koreksi.
Tiga poin itu menjadi hal fundamental yang perlu dipahami dan dikuasai oleh seorang editor pemula. Institut Penprin menyelenggarakan pelatihan di tempat (onsite). Silakan mengakses informasi pada tautan berikut ini:
***
f
