Regulasi terbaru Kepmendiktisainstek Nomor 39/M/KEP/2026 tentang Petunjuk Teknis Layanan Pengembangan Profesi dan Karier Dosen memuat keluaran penelitian adalah suntingan buku ber-ISBN. Secara umum dosen menjadi pembimbing skripsi, tesis, dan disertasi. Meskipun tugas membimbing bukan menyunting, beberapa dosen melibatkan diri untuk memperbaiki naskah mahasiswa. Posisi mereka sebenarnya lebih tepat disebut sebagai penelaah (reviewer) daripada penyunting.
Seorang dosen dapat berposisi, bahkan relevan ketika ia menjadi penyunting naskah ketika skripsi-tesis-disertasi itu dikonversi menjadi buku ilmiah, seperti monografi atau buku referensi. Hal itu tentu dapat dinegosiasikan kepada mahasiswa yang karyanya berpotensi untuk dibukukan.
Sebelum itu, tentu dosen perlu menguasai perihal penyuntingan naskah. Penyuntingan naskah merupakan kompetensi penting untuk menjamin mutu sebuah publikasi, terutama buku agar sesuai dengan standar, kaidah, dan kode etik ilmiah.
Menurut Smith Jr. (1996) ada tujuh aspek yang disunting dari suatu naskah:
- keterbacaan (legibility);
- ketetapan;
- tata bahasa;
- kejelasan dan gaya bahasa;
- ketelitian fakta;
- legalitas dan kesopanan; dan
- perincian produksi.
Einsohn dan Schwartz (2019) mendeskripsikan lingkup kerja dalam penyuntingan naskah:
- penyuntingan mekanis (mechanical editing);
- penghubungan antarbagian (correlating parts);
- penyuntingan bahasa;
- penyuntingan materi (content editing);
- perizinan (permissions); dan
- penandaan bagian (markup).
Apa yang disampaikan Smith Jr. beserta Einsohn dan Schwartz itulah yang perlu dikuasai seorang dosen apabila ia hendak berprofesi sebagai editor naskah. Jadi, menyunting naskah bukan sekadar formalitas mengotak-atik naskah, melainkan sebuah kerja yang mendukung agar tercapai publikasi ilmiah yang bermutu dan berdampak.
Objek penyuntingan berupa naskah buku menuntut dosen juga memahami anatomi naskah buku serta kekhasan struktur buku, seperti buku ajar, monografi, dan buku referensi. Ketiga berbeda dari segi konten dan penyajian. Karena itu, memahami prinsip-prinsip buku ilmiah adalah langkah pertama untuk menjadi penyunting naskah yang kompeten.
Ada hal lain yang juga tidak kalah penting harus dikuasai oleh dosen penyunting, yakni perihal gaya selingkung (in-house style). Gaya selingkung merupakan aturan tentang publikasi yang diterapkan di satu lingkungan (lembaga, kampus, perusahaan, negara) tertentu sebagai hasil konvensi. Beberapa gaya selingkung induk yang kita kenal, yaitu APA Style, Chicago Manual of Style, IEEE, Vancouver, dan MLA.
Beberapa gaya selingkung itu menerapkan aturan yang seragam untuk hal-hal mendasar. Namun, ada juga yang berbeda, misalnya dalam kutipan dan sitasi.
Terlihat bahwa penyuntingan naskah sebagai ilmu yang disebut editologi mengandung kerumitan tersendiri. Karena hal itulah, ia perlu dipelajari secara mendalam. Sayangnya, tidak banyak lembaga yang menyelenggarakan pelatihan penuntingan naskah profesional berikut uji kompetensi (sertifikasi) berlisensi BNSP.
Kami, di Institut Penprin menyediakan fasilitas pelatihan dan sertifikasi (BNSP) untuk para dosen yang hendak naik level menjadi penyunting naskah. Tersedia paket pelatihan dan sertifikasi yang lebih hemat.

Hubungi kami untuk kerja sama penyelenggaraan Pelatihan dan Sertifikasi Penyuntingan Naskah. Naik level menjadi dosen editor bukan lagi sekadar wacana.
