Era 1980-an belum dikenal ilmu desain grafis untuk buku. Bahkan, sebutan untuk mereka yang membantu penataan halaman buku adalah setter lalu berubah menjadi layouter—terkesan pekerjaan tradisional mengetik dan menata halaman secara manual. Sampai kemudian muncul istilah desktop publishing.
Pada 1984, Paul Brainerd dari Aldus Corporation, menciptakan istilah ‘desktop publishing’ untuk menggambarkan hasil seni yang dapat dibuat dengan menggunakan program perangkat lunak penata halaman Aldus (Aldus Pagemaker). Dengan menggunakan komputer destop dan laser printer beresolusi 300 dot per inch, seorang desainer dapat mencetak hasil karya artistik hitam-putih yang siap cetak (camera ready copy).
Itulah termasuk titik awal dari revolusi dunia penerbitan, khususnya di bidang perwajahan buku. Sebutan setter (peninggalan masa lalu) dan layouter masih digunakan. Ilmu desain grafis muncul sebagai jurusan atau program studi di banyak kampus yang kemudian diubah sebutannya menjadi desain komunikasi visual.
Namun, tak semua “anak-anak” DKV itu memahami desain buku secara khusus, mereka memahami desain secara umum. Beberapa kampus yang menyelenggarakan hanya program D-1 dan D-3 desain grafis malah cenderung menghasilkan lulusan dengan kemampuan menggunakan perangkat lunak, bukan pemahaman tentang desain secara mendalam.
Itulah yang saya alami ketika mulai bergiat di industri penerbitan pada pertengahaan 1990-an. Mereka yang menjadi desainer buku banyak juga lulusan SMA/SMK tanpa bekal pengetahuan tentang buku. Alhasil, desain buku tidak mengikuti standar dan kaidah penerbitan buku.
Hal itu mendorong saya mempelajari banyak segi tentang pendesainan buku, termasuk tipografi. Sejak kuliah di D-3 Editing Unpad, minat saya termasuk tinggi mengikuti mata kuliah Perwajahan dan Tipografi. Dari situ saya dapat memahami esensi media buku sebagai media massa nonberkala. Saya juga mempelajari perangkat lunak Aldus Pagemaker secara autodidaktik.
Editor yang Memahami Desain Buku
Penting bagi saya sebagai editor untuk memahami desain buku agar dapat mencari solusi atas masalah desain. Editor harus memahami paginasi (penataan) halaman pada suatu naskah, termasuk penerapan unsur teks dan visual. Editor juga harus memahami kesalahan-kesalahan dalam desain.
Saya juga dulu memiliki motif pribadi menguasai desain buku karena sering kali berhadapan dengan teman setter/layouter yang enggan mengubah desain dengan alasan tidak bisa dilakukan. Berjumpa dengan “pemalas” seperti itu menjadi dorongan untuk mendalami perangkat lunak pendesain halaman.
Tahun 1997, saya sudah berinvestasi dua unit Macintosh bekas dan satu unit printer laser HP. Itulah awal saya membuka usaha jasa penerbitan di rumah, mulai dari menulis, menyunting, hingga mendesain buku sehingga siap cetak. Dahulu istilahnya sampai CRC (camera ready copy).
Dua Wajah Buku
Ada dua wajah buku, eksterior dan interior. Eksterior lebih dikenal dengan sebutan sampul atau kover buku. Ia terdiri atas kover depan, punggung (spine), dan kover belakang. Interior adalah halaman-halaman isi buku yang terbagi atas bagian awal (preliminaries), bagian isi (text matter), dan bagian akhir (postliminaries). Pengenalan terhadap anatomi buku menjadi pengetahuan esensial dalam pendesainan buku.
Sebutan setter/layouter untuk saat ini memang sudah kurang relevan karena para pelakunya bukan sekadar tukang tik dan bukan pula sekadar tukang susun halaman (pengatak). Maka dari itu, di dalam UU Nomor 3 Tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan, digunakan istilah desainer buku. Pekerjaannya saat ini sangat kompleks dan menuntut kompetensi yang mumpuni sebagaimana saya gambarkan dalam infografik berikut ini.

Institut Penprin memahami minimnya kelas-kelas khusus tentang desain buku atau perwajahan buku. Karena itu, Penprin berinisiatif menyelenggarakan webinar dan lokakarya onsite. Webinar yang diselenggarakan 21 Agustus 2026 menyajikan materi mendasar, yaitu
- Anatomi Buku
- Fundamental Desain
- Tipografi
- Layout & Grid
- Alur Kerja
- Kesalahan Mendesain
Materi itu menjadi pemantik untuk kelas lokakarya September 2026 yang langsung akan memandu peserta praktik mendesain kover buku dan halaman isi buku. Tentu saja kelas itu tak hanya pantas diikuti oleh calon desainer buku, tetapi juga para editor dan para penulis yang hendak menjalankan bisnis penerbitan secara mandiri.
Versi webinar akan muncul di LMS Institut Penprin segera sehingga Anda dapat mengakses materi itu kapan pun dan di mana pun.
