Menguatkan “Muruah” Buku di Fasilkom UI

Tanggal 12–13 Agustus 2026, Institut Penprin kembali mengisi kegiatan pelatihan di Fasilkom UI. Kali ini yang dibahas tentang penulisan buku akademis-buku ilmiah.

Dalam banyak hal, penulisan buku memang kalah pamor daripada penulisan artikel ilmiah di jurnal ilmiah. Ada banyak sebab mengapa hal itu terjadi. Soal yang umum karena kompleksitas buku lebih tinggi daripada artikel ilmiah yang panjangnya rata-rata 10–20 halaman. Dari sisi angka kredit (AK), artikel ilmiah juga cukup signifikan tanpa dibatasi publikasi per tahun. Sebagai contoh, artikel terbit di jurnal nasional bereputasi peringkat 1, diganjar dengan AK 25.

Bandingkan dengan dosen yang menulis buku ajar lalu diganjar dengan AK 20 dan hanya boleh mengajukan batasan satu buku per tahun. Buku ajar paling tidak memiliki tebal halaman di atas 60 halaman berikut kerumitan menyusunnya menjadi bab-bab pembelajaran. Memang itulah kebijakan yang secara pragmatis lebih mendorong dosen untuk menulis artikel ilmiah daripada sebuah buku.

Meskipun dari sisi AK, sebuah buku bersaing dengan keluaran artikel ilmiah, dari segi gengsi tentu berbeda. Prof. Harry Budi Santoso dari Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom) UI menunjukkan contoh ketika ada kegiatan di kampus, seperti simposium, maka yang dapat dipamerkan adalah karya-karya buku dosen.

“Buku itu jelas tampak fisiknya sebagai keluaran penelitian,” ujar Prof. Harry.

Karena itu, Divisi Riset, Inovasi, Pengabdian Masyarakat, dan Kemitraan Akademik yang dipimpin oleh Prof. Harry Budi Santoso mengadakan kegiatan Pelatihan Penulisan Buku Akademis dan Buku Ilmiah. Kegiatan itu menghadirkan saya, Bambang Trim, sebagai narasumber tunggal dari Institut Penprin. Peserta terdiri atas dosen dan mahasiswa pascasarjana di Fasilkom UI.

Selama dua hari, saya membahas tentang fundamental buku akademis dan buku ilmiah lalu dilanjutkan pembahasan tentang

  • buku ajar dan buku teks,
  • monografi riset, dan
  • buku referensi.

Pelatihan itu terutama untuk menginsafkan perbedaan antara buku ajar, monografi riset, dan buku referensi. Para peserta didorong menghasilkan buku bukan semata karena ada AK-nya, melainkan juga karena reputasi dan kepakaran mereka bakal diakui melalui karya buku.