Siapa yang tak kenal footnote (catatan kaki)? Catatan itu sering muncul dalam KTI dalam bentuk sitasi sumber. Sebuah kutipan muncul di badan teks lalu diakhiri dengan angka superskrip. Angka itu merupakan penunjuk catatan bibliografi di bagian bawah teks.
Contoh:
… fenomena tersebut telah banyak diteliti.1
1John Smith, The Theory of …, 45.
Catatan kaki pada Gaya APA 7 sebagai mekanisme utama perujukan sumber kutipan (sitasi) berangsur-angsur tidak lagi dominan dalam penulisan KTI kini, termasuk buku ilmiah. Walaupun demikian, APA 7 tidak benar-benar meninggalkan catatan kaki sebagai mekanisme perujukan. Masih dimungkinkan catatan kaki muncul berupa penjelasan (interpolasi) teks.
Berikut beberapa fungsi catatan kaki sebagai interpolasi:
- memberikan penjelasan tambahan;
- memberikan informasi yang terlalu panjang jika dimasukkan ke teks;
- memberikan catatan khusus;
- memberikan atribusi hak cipta tertentu;
- memberikan informasi lihat dan lihat juga, dan
- memberikan informasi yang sifatnya suplementer.
Sebagai ganti catatan kaki berupa sitasi sumber maka model author–date/in-text citation (catatan badan) yang lebih banyak digunakan, baik dalam bentuk sitasi naratif, sitasi parentesis, maupun sitasi multipel.
Contoh beberapa model sitasi pada catatan badan:
Menurut Siregar (2022), literasi digital tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga kemampuan mengevaluasi informasi secara kritis.
Literasi digital tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga kemampuan mengevaluasi informasi secara kritis (Siregar, 2022).
Literasi digital mencakup kemampuan mengakses, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara bertanggung jawab (Siregar, 2022; Pratama, 2023; Wijaya, 2024).
Di sisi lain, Gaya Chicago (Chicago Manual of Style) masih mempertahankan dua sistem: Notes and Bibliography dan Author-Date. Chicago menjelaskan bahwa sistem catatan kaki dan catatan akhir (endnote) sebagai sistem utama lebih banyak digunakan dalam ilmu humaniora, sedangkan author–date lebih disukai dalam pengetahuan umum dan ilmu sosial.
Simpulannya, jika Anda menggunakan APA 7, sistem in-text citation dan reference list lebih disarankan. Adapun jika menggunakan Chicago, lebih utama digunakan catatan kaki atau catatan akhir yang akan terhubung dengan daftar pustaka (bibliografi).
Mengapa Sistem Author-Date Semakin Dominan?
Gaya penulisan modern sering kali menuntut kepraktisan dan kemudahan penerapan unsur tulisan. Penggunaan catatan badan mempermudah pembaca untuk langsung tahu tentang siapa pencipta dan tahun ciptaan. Hal ini sangat berguna dalam ilmu sosial, pendidikan, psikologi, kesehatan, dan bidang lain yang tahun publikasi memiliki arti penting untuk menyoroti perkembangan suatu ilmu.
Contoh dalam kutipan multipel:
Penelitian mengenai literasi digital menunjukkan peningkatan perhatian sejak 2018 (Sari, 2018; Jones & Smith, 2021; Chen et al., 2024).
Dari satu kalimat saja pembaca dapat melihat perkembangan kronologis penelitian. Itulah salah satu alasan sistem author–date sangat cocok untuk ilmu empiris.
Efisiensi juga menjadi pertimbangan untuk KTI atau buku yang mengandung banyak sekali kutipan dan sitasi. Jika satu halaman mengandung tiga kutipan, sitasi sumber pada catatan kaki akan memakan ruang halaman sehingga dapat mengganggu keterbacaan.
Alasan lain penggunaan catatan badan juga lebih cocok untuk publikasi digital yang tidak hanya dibaca sebagai halaman cetak, seperti PDF, HTML, ePub, reference manager, mesin pencari, DOI, dan perangkat lunak sitasi. Di sisi lain, catatan kaki dapat mengandung informasi yang lebih kompleks sehingga hubungan antara sitasi dan bibliografi tidak selalu sesederhana itu. Karena itu, kecenderungan digitalisasi publikasi turut mendorong standardisasi sistem sitasi.
Alasan Epistemologis
Konteks epistemik suatu klaim (konsep dan teori) tentang siapa yang mengatakan sesuatu dan kapan ia mengatakannya menjadi penting dalam pengetahuan modern. Contohnya, dalam kutipan multipel yang menggunakan beberapa sumber.
Pandangan X merupakan teori dominan dalam bidang tersebut (Smith, 1998), tetapi penelitian berikutnya menunjukkan keterbatasannya (Jones, 2015; Lee, 2022).
Jika ditampilkan dalam sistem catatan kaki, sulit secara langsung dapat ditelusuri. Dimensi temporal tersebut menjadi jauh kurang terlihat. Itulah mengapa sistem author–date sangat kuat dalam ilmu yang perkembangannya bersifat kumulatif dan empiris.
Simpulan
Dalam perkembangan KTI kontemporer, terutama pada ilmu sosial, psikologi, pendidikan, dan berbagai bidang empiris, terjadi kecenderungan penggunaan sistem author–date atau in-text citation sebagai mekanisme utama dokumentasi sumber. Kecenderungan tersebut tidak berarti bahwa footnote telah ditinggalkan secara umum.
Footnote tetap menjadi sistem sitasi utama dalam sejumlah tradisi akademik, khususnya humaniora, sejarah, filsafat, hukum, dan bidang yang menggunakan Notes-Bibliography. Dalam APA 7, footnote tetap diakui, tetapi terutama sebagai sarana memberikan informasi suplementer, sedangkan dokumentasi sumber dilakukan melalui in-text citation yang terhubung dengan reference list.
